[COLLEGE] Tugas Kesehatan Kerja dan Higiene Perusahaan + Toksikokinetik dan Toksikodinamik

23 Mar

 

Tugas Kesehatan Kerja dan Higiene Perusahaan

 

  1. Beda pajanan dan paparan?

Secara garis besar, pajanan adalah kontak dengan agen potensial, sementara paparan merupakan pengalaman/akibat dari kontak terhadap agen tersebut.Berikut adalah penjelasan lebih lanjut.

  1. Paparan

Paparan adalah pengalaman yang didapat populasi atau organisme akibat terkena atau terjadinya kontak dengan suatu faktor agent potensial yang berasal dari lingkungan.Paparan dalam epidemiologi seringkali dibedakan dari istilah dosis yang diartikan sebagai jumlah zat yang masuk atau berada di dalam tubuh organisme. Di dalam epidemiologi seringkali diukur dari luar, jadi belum tentu sama dengan jumlah yang memasuki tubuh. Jenis paparan dilihat dari sifat pemapar seperti zat kimiawi, fisis, biologis, atau campuran.

Pengukuran paparan dapat dilakukan secara kualitatif ataupun kuantitatif. Contoh pengukuran kualitatif adalah apabila data didapat dengan cara wawancara ataupun kuesioner tentang kebiasaan, kepercayaan, dan lain-lainnya. Pengukuran kuantitatif dapat disamakan dengan pemantauan atau sistem pengukuran, observasi yang bersifat kontinu dengan tujuan tertentu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam  melakukan pengukuran adalah pengambilan sampel untuk mengukur konsentrasi faktor pemapar : apa yang akan diukur, dimana, berapa lama, ketelitian yang dikehendaki, metode dan prosedur yang digunakan, instrumentasi yang dipakai.

 

  1. Pajanan

Pajanan adalah terjadinya kontak antara manusia dan agent penyebab potensial. Terdapat empat pertimbangan dalam penilaian pajanan :

  • Likelihood of exposure

Kemungkinan terpajan merujuk pada peluang terjadinya kontak antara substansi dan manusia atau reseptor lingkungan.Untuk menentukan kemungkinannya, adalah penting untuk mengidentifikasi jalan potensial terjadinya kontak dan jalur pajanannya — pencernaan, pernafasan atau kulit.

  • Magnitude of exposure

Merujuk pada level, atau dosis, dari pajanan.Sebagai tambahan untuk penilaian (volume atau konsentrasi) pajanan.

  • Route of exposure

Jalur pemajanan meliputi :inhalasi, pencernaan, kulit, daninjeksi. Jalur pemajanan penting lainnya adalah :placental exposure of the fetus, exposure to noise via the ears, andexposure to uv radiation via the eyes. Adapun variasi rentang waktu pemajanan

–        Short-term exposure : seconds, minutes, hours, days

–        Long-term exposure : weeks, months, years, lifetime

–        Cumulative exposure : total exposure over a given period of time

  • Population exposed

Penilaian pajanan belum lengkap tanpa mengidentifikasi populasi terpajan.Secara umum pajanan dapat dikelompokkan dalam 3 kategori :Workplace exposure, Consumer use, and Environmentally-mediated exposure.

 

  1. Apa yang dimaksud dengan radiasi pengion dan non pengion?

–          Radiasi pengion

Radiasi elektromagnetik atau partikel yang mampu mengionisasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam lintasannya menembus materi. Radiasi pengion ialah radiasi yang dapat menimbulkan ionisasi dan eksitasi pada materi yang ditembusnya. Apabila radiasi pengion menembus suatu materi, maka materi tersebut akan mengalami ionisasi atau eksitasi dengan menyerap energi radiasi. Radiasi a, b (elektron atau positron), g, dan neutron ialah radiasi pengion yang dihasilkan dari inti atom yang mengalami transformasi inti. Ionisasi ialah proses terjadinya ion (ion positif dan elektron bebas) dari suatu atom netral dalam materi yang dikenai energi. 

Radiasi ionisasi langsung bisa berupa partikel bermuatan listrik (misalnya sinar a, b, dan proton), yang dapat mengakibatkan ionisasi dengan memberikan energinya kepada elektron orbital dalam suatu atom atau molekul. Sedang gelombang elektromagnetik misalnya sinar-X, sinar g, (yang juga  bersifat partikel, yaitu foton), dan partikel tak bermuatan listrik (misalnya neutron) menghasilkan partikel bermuatan listrik pada saat berinteraksi dengan atom dalam materi. Misalnya, foton mengeluarkan elektron, neutron mengeluarkan proton. Neutrino (n) dikeluarkan pada saat partikel b dipancarkan dengan muatan berlawanan dengan elektron. Partikel-partikel ini, karena massanya kecil dan tidak bermuatan listrik, sulit berinteraksi dengan materi tetapi karena dapat mengionisasi disebut radiasi pengion tak langsung. Pada umumnya radiasi pengion hanya disebut radiasi saja.

Berbagai jenis radiasi pengion dikelompokkan berdasarkan struktur atau sumbernya. Apabila radiasi pengion menembus suatu materi, maka materi tersebut akan mengalami ionisasi atau eksitasi dengan menyerap energi radiasi. Yang termasuk dalam jenis radiasi pengion adalah partikel alpha, partikel beta, sinar gamma, sinar-X dan neutron. Setiap jenis radiasi memiliki karakteristik khusus.

 

Jenis dan mekanisme radiasi pengion

  • Radiasi a, b (elektron atau positron), g, dan neutron ialah radiasi pengion yang dihasilkan dari inti atom yang mengalami transformasi inti. Inti atom yang mengalami transformasi (peluruhan) ialah inti atom yang bersifat tidak stabil, dan radiasi pengion yang dipancarkannya disebut radiasi pengion nuklir. Setelah mengalami peluruhan, inti atom yang tidak stabil akan menjadi inti atom yang stabil. Inti atom yang mengalami transformasi inti disebut inti induk, dan hasil transformasi inti disebut anak luruh atau inti hasil peluruhan. Jenis sumber radiasi alam yang banyak dikenal antara lain U-238 dan Th-232, masing-masing sebagai inti induk, sedang deret peluruhannya dikenal sebagai deret uranium dan deret thorium.
  • Radiasi pengion yang dihasilkan oleh transisi elektron dalam kulit atom akibat tumbukan elektron berkecepatan tinggi dengan atom logam berat, misalnya Pb atau Cu, disebut sinar-X. Sinar-X ialah radiasi dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang mempunyai daya tembus tinggi.
  • Ion dari atom helium, hidrogen, deuterium, tritium, dan lain-lain, yang dipercepat juga bersifat pengion.
  • Radiasi pengion berenergi tinggi yang berasal dari benda angkasa dan menembus ke dalam atmosfer bumi disebut radiasi kosmik primer, dan radiasi kosmik yang dihasilkan oleh interaksi radiasi kosmik primer dengan inti atom yang ada di udara disebut radiasi kosmik sekunder. Radiasi kosmik primer terdiri dari sekitar 90% proton, sisanya adalah inti helium (partikel a) dan inti atom yang lebih berat. Radiasi kosmik masuk kedalam atmosfer bumi berinteraksi dengan berbagai atom di udara dan menghasilkan partikel misalnya elektron, positron, sinar g, partikel-antara fion (p intermediate), m (muon), neutron, proton, n (neutrino), dan lain lain. Intensitas radiasi kosmik sekunder di permukaan tanah adalah 1 menit-1.cm-2.

 

–          Radiasi Non Pengion

Radiasi non-pengion adalah jenis radiasi yang tidak akan menyebabkan efek ionisasi apabila berinteraksi dengan materi. Radiasi non-pengion tersebut berada di sekeliling kehidupan kita.

Yang termasuk dalam jenis radiasi non-pengion antara lain adalah:

  • Gelombang radio (yang membawa informasi dan hiburan melalui radio dan televisi);
  • Gelombang mikro (yang digunakan dalam microwave oven dan transmisi seluler handphone)
  • Sinar inframerah (yang memberikan energi dalam bentuk panas)
  • Cahaya tampak (yang bisa kita lihat)
  • Sinar ultraviolet (yang dipancarkan matahari).

 

  1. Rumus kimia toluene, nilai ambang normalnya dalam darah dan urine, dan efeknya bagi kesehatan?

Toluena (C7H8 (C6H5CH3)) adalah suatu senyawa tidak berwarna, cairan berbau aromatic yang khas dimana tidak setajam benzena. Asal kata toluena diambil dari sebuah resin  alami, kata tolu, merupakan sebuah nama dari sebuah kota kecil di Colombia, Amerika Selatan. Toluena ditemukan antara produk degradasi dengan cara pemanasan resin tersebut. Toluena dikenal juga sebagai metilbenzena ataupun fenilmetana yaitu cairan bening tak berwarna yang tak larut dalam air dengan aroma seperti pengencer cat dan berbau harum seperti benzene.

Toluena adalah hidrokarbon aromatic yang digunakan secara luas dalam stok umpan industri dan juga sebagai bahan pelarut bagi industri lainnya. Seperti pelarut-pelarut lainnya, toluena juga digunakan sebagai obat inhalan oleh karena sifatnya yang memabukkan. Toluena juga mudah sekali terbakar. Sebelum perang dunia pertama, sumber utama dari toluena adalah pemanasan batu arang. Pada waktu itu, trinitrotoluena (TNT) menghasilkan daya ledak yang tinggi dan produksi toluena dalam jumla besar diperlukan untuk pembuatan TNT tersebut. Toluena paling banyak digunakan sebagai komponen dalam gasolin. Selain itu banyak juga digunakan sebagai campuran dalam cat, pernis, tinta, lem, dan karet. Oleh karena itu aktivitas dan proses produksi dari pabrik tersebut merupakan sumber pencemar toluena antara lain: petrokimia, pabrik kertas dan pulp, pabrik grafit sintesis, pabrik karbon hitam, instalasi penyulingan minyak tanah, sumur pengeboran minyak dan gas dan lain-lain. Sedangkan sumber alamiah pencemar toluena antara lain: gunung berapi, kebakaran hutan dan minyak mentah

Nilai Ambang Batas Toluena relatif kecil, yaitu TWA sebesar 0.005 ppm dan STEL sebesar 0.02 ppm, artinya Toluena tergolong berbahaya untuk kesehatan pekerja yang terpapar. Toluena dapat mengiritasi kulit serta bahaya gangguan serius terhadap kesehatan jika terpapar lama dengan menghirupnya. Uapnya dapat menyebabkan mengantuk atau pening. Toluena dapat menyebabkan kerusakan paru jika tertelan. Toluena adalah flammable liquid, karena dapat melepaskan uap yang membentuk campuran ledakan di udara pada temperature 4.4 °C. Uap dalam kisaran ‘flammable’ bisa tersulut dengan mudah oleh energi yang cukup. Toluen merupakan substansi pertama yang dikenal sebagai “bau lem”, dimana pelarutnya yang digunakan untuk perekat. Lem tersebut merupakan pewangi bensin hydrocarbon yang digunakan secara luas dalam industri sebagai pelarut dan thinner untuk perekat dan cat. Kandungan zat-zat tersebut banyak menyerupai benzen, suatu substansi yang dapat digunakan dalam bau pelarut. Toluen dapat menyebabkan akut dan kronik intoksikasi pada situasi industri. Keterpajanan terhadap konsentrasi relatif tinggi pada air, antara 10-30.000 ppm dapat menyebabkan mabuk, kebingungan dan koma dalam beberapa menit.

Nilai ambang toluen dalam darah dan urin: Pada penggunaan toluen non-fatal, kadar dalam darah 0,3-7,0 mg/L ditentukan oleh Bonnichsen, dengan eksresi urin > 5 mg/L. Konsentrasi dalam darah 1,0-2,5 mg/L memperlihatkan beberapa tanda intoksikasi, sementara setengahnya antara 2,5-10 mg/L dikirim ke rumah sakit dengan gejala-gejala terlihat. Mereka yang tidak menderita kebingungan atau mati memiliki kadar dalam dara > 19 mg/L. Nomiyama menemukan kadar darah antara 50-80 mg/L dalam 3 kefatalan, rata-rata dalam paru-paru menjadi 3,6 mg/L dan di otak 19 g/L. Kerusakan otak telah dilaporkan pada penyalahgunaan dalam jangka waktu lama, dengan peruabahan elekstroensefalografi (EEG), ensefalopati dan atrofi cerebral secara kebetulan.

 

 

Tabel 1. Efek Toluena dalam Tubuh

Kadar (ppm)

Efek Setelah Terakumulasi Dalam Tubuh 8 jam

100 ppm

Sakit kepala, pusing, kelelahan, mengantuk

200 ppm

Koordinasi lemah, kesadaran menurun

600 ppm

Mengantuk, kontrol emosi kurang

800 ppm

Gelisah, otot lemah, insomnia beberapa hari

> 10.000 ppm

Kehilangan kesadaran, merusak jantung, mati

                                                (Department of Health and Human Service, 2009)

 

  1. Apa yang dimaksud dengan antropometri dan kegunaannya?

Antropometri adalah ilmu yang secara khusus mempelajari tentang pengukuran tubuh manusia guna merumuskan perbedaan-perbedaan ukuran pada tiap individu atau kelompok. Ukuran tubuh manusia bervariasi berdasarkan umur, jenis kelamin, suku bangsa, bahkan kelompok pekerjaan. Interaksi antara ruang dengan manusia secara dimensional dapat menimbulkan dampak antropometris, yaitu kesesuaian dimensi-dimensi ruang terhadap dimensi tubuh manusia yang secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam proses perencanaan (design) produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia.

Menurut Stevenson (1981) dan Nurminto (1991), Antropometri adalah suatu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk  penanganan masalah desain. Menurut Eko Nurminto (1996), Antropometri merupakan suatu pengukuran sistematis terhadap tubuh manusia terutama seluk beluk dimensional ukuran dan bentuk tubuh manusia, digunakan untuk merancang atau menciptakan suatu bentuk rancangan bangun yang disebut sebagai suatu rancang bangun yang ergonomis. Antropometri berkaitan dengan ukuran tubuh yang sangat bervariasi. Data-data mengenai ukuran tubuh manusia penting untuk desain ruang dan alat kerja. Ukuran tubuh manusia tergantung pada usia, jenis kelamin, keturunan, status Gizi, dan kesehatan.

Antropometri dibagi dalam dua bagian yaitu :

  • Antropometri statis, dimana pengukuran dilakukan pada saat tubuh  dalam keadaan diam/posisi diam/ tidak bergerak.
  • Antropometri dinamis, dimana dimensi tubuh diukur dalam berbagai posisi tubuh yang sedang bergerak.

Kegunaan Antropometri antara lain:

  • Perancangan areal kerja
  • Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools)
  • Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian , kursi, meja, komputer
  • Perancangan lingkungan kerja fisik.
  • Untuk mengurangi tingkat kelelahan kerja,
  • Meningkatkan performa kerja
  • Meminimalisasi potensi kecelakaan kerja (Mustafa Pulat, Industrial ergonomics case studies, 1992)

 

  1. Berapa nilai ambang batas getaran?

Vibrasi adalah suatu fenomena dimana terjadi peningkatan dan penurunan dimensi terhadap suatu nilai dasar secara berulang-ulang sesuai waktu.Dimana dimensinya adalah jarak, kecepatan dan akselerasi. Vibrasi dapat di transmisi ke pekerja melalui 3 aksis tubuh: X (depan belakang), Y (kanan-kiri), dan Z (atas bawah).

Batas aman vibrasi :

Waktu Pajanan

Frekuensi

Batas atas Akselerasi (g)

30 menit

4 – 8 jam

8 – 15

80

250

8 – 15

80

250

6

40

125

1.5

6

20

 

Upaya pencegahan dalam mengurangi akibat dan dampak vibrasi bagi pekerja:

  1. Dengan pemasangan per atau bantalan
  2. Pemeliharaan peralatan dan alat transportasi
  3. Sesuaikan kecepatan peralatan agar berada pada frekwensi yang diperbolehkan

 

  1. Lakukan analisis identifikasi fungsi bahaya potensial bila anda bekerja di Perusahaan Listrik Negara (PLN)?

Konsumsi listrik Indonesia secara rata-rata adalah 473 kWh/kapita pada 2003. Angka ini masih tergolong rendah dibandingkan rata rata konsumsi listrik dunia yang mencapai 2215 kWh/kapita (perkiraan 2005). Dalam daftar yang dikeluarkan oleh The World Fact Book, Indonesia menempati urutan 154 dari 216 negara yang ada dalam daftar.

Sistem kerja PLN meliputi semua pekerjaan yang beresiko tinggi setelah dilakukan inspeksi yang ketat harus diberlakukan prosedur “ ijin kerja “ sebelum pekerjaan dimulai dan disetujui oleh para ahli keselamatan kerja atau para ahli yang berkompeten.Pegawai atau Petugas yang berada pada instalasi Tegangan Tinggi (TT) dibagi menjadai dua bagian yaitu :

–        Operator Gardu Induk yang bertugas memantau beban trafo sutter dan memantau peralatan yang terpasang di Gardu Induk (GI). Jam kerja dibagi menjadi 3 shift yaitu : jam 07.30 WIB – 15.00 WIB, 15.00 WIB – 22.00 WIB , 22.00 WIB – 07.30 WIB.

–        Petugas pemeliharaan bertugas memlihara peralatan instalasi Tegangan tinggi (TT). Jam kerja dilakukan setiap hari yaitu pada pukul 07.30 WIB – 16.00 WIB.

Analisis Bahaya Potensial

  • Kimia

Pekerja terpapar dengan sinar X, radioaktif, medan magnet dsb. Hal ini dapat dicegah dengan penggunaan APD yang tepat.

  • Fisika

Pekerja rentan terpapar dengan listrik tegangan tinggi.Paparan ini dapat diminimalisir dengan pemakaian alat pelindung diri seperti seragam operator gardu tegangan tinggi.Pekerja juga kerap mengalami situasi kerja yang bising atau pada ruangan trafo tegangan tinggi. Hal ini tentunya dapat diatasi dengan pemakaian alat pelindung telinga

  • Ergonomi

Pekerja rentan mengalami cedera pada saat berada di ketinggian atau sedang menggunakan tangga. Cara kerja yang aman dan sesuai SOP dapat menurunkan angka kejadian cedera pada pekerja.

  • Psikososial

Beban kerja yang tinggi dan kejenuhan dalam bekerja.

Rekomendasi Pengendalian Penyakit Akibat Kerja

Untuk mengantisipasi permasalahan penyakit akibat kerja, langkah-langkah yang harus ditempuh yaitu:

  1. Pengenalan lingkungan kerja

Merupakan langkah dasar yang pertama-tama dilakukan dalam upaya kesehatan kerja. Pengenalan lingkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal (walk through inspection).

  1. Evaluasi lingkungan kerja

Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin timbul, sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi permasalahan.

  1. Pengendalian lingkungan kerja

Dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilanngkan pemajanan terhadap zat/bahan yang berbahaya di lingkungan kerja.Kedua tahapan sebelumnya, pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat.Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang adekuat untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja.

  • Pengendalian Lingkungan Kerja

–        Semua pekerja wajib mengikuti atau melaksankan Sistem Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

–        Tempat – tempat yang memilki pembatasan izin masuk harus dikendalikan.

–        Rambu – rambu peringatan K3 dan tanda – tanda daerah berbahaya harus dipasang sesuai instruksi.

–        Lingkungan kerja harus dinilai agar diketahui daerah – daerah yang harus memiliki pembatasan izin masuk.

  • Penggunaan Alat Pelindung Tubuh

–        Semua pekerja , karyawan dan  tamu  harus menggunakan topi pengaman saat berada di lapangan.

–        Sabuk pengaman dan tali penyelamat harus digunakan saat bekerja pada ketinggian di atas 2 meter.

–        Pakai seragam operator Gardu Induk Tegangan Tinggi.

–        Sarung tangan harus digunakan sewaktu memegang barang atau benda yang menimbulkan listrik atau pada saat memperbaiki listrik tegangan tinggi / instalasi listrik.

–        Alat pelindung telinga harus digunakan jika bekerja pada situasi kerja yang bising atau pada ruangan trafo tegangan tinggi.

  • Penggunaan tangga pada saat berkerja di tempat tinggi

–        Tangga digunakan untuk memperbaiki instalasi listrik yang berada pada ketinggian.

–        Tangga terdapat berapa macam ada tangga yang berbentuk huruf A dan tangga yang memilki tinggi lebih dari 2 meter dan disambung – sambung.

–        Pemakaian tangga untuk keadaan berbahaya harus sesuai dengan Sistem Operasional Prosedur (SOP).

–        Kemiringan tangga harus diatursedemikian rupa sehingga aman saat digunakan.

  • Kondisi pekerjaan di tempat yang tinggi.

Yang dimaksud bekerja di tempat tinggi adalah kondisi dimana terjadi perbedaan ketinggian pada lokasi pekerjaan sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan cukup besar.ketentuan – ketentuan yang harus diperhatikan :

–        Pekerja harus dalam keadaan sehat , tidak takut ketinggian , menggunakan APD yang sesuai dengan aspek kerja.

–        Harus dilakukan brefing / pembekalan oleh pengawas kepada pekerja yang akan berkerja.

–        Pekerja haruslah orang yang telah mahir melakukan pekerjaan pada ketinggian.

–        Pekerja harus memilki atau mengacu pada DP3 (Dokumen Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan) dan SOP (Sistem Operasional Prosedur).

  • Prosedur Izin Kerja Untuk Pekerjaan Berbahaya atau Berisiko Tinggi

Tujuan dibuatnya prosedur izin kerja untuk keadaan berbahaya dan beresiko tinggi adalah untuk memberikan pedoman pada seluruh karyawan, tenaga kerja dan mitra kerja tentang persyartan yang harus dipenuhi sebelum melakukan pekerjaan yang berisiko tinggi dalam rangka keselamatan dan kesehatan kerja.Pekerjaan berbahaya yang rutin dilaksanakan yaitu pada pemeliharaan peralatan Tegangan Tinggi (TT), maka dari itu prosedur kerjanya telah diatur dalam DP3 (Dokumen Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan ) meliputi sebagai berikut :

–        Briefing rencana kerja.

–        Izin pembebasan instalasi untuk dikerjakan

–        Pelaksanaan manuver pembebasan tegangangan , yaitu pelaksanaan yang dillakukan pada instalasi yang seluruh tegangan di non-aktifkan.

–        Pernyataan pekerjaan selesai.

 

  1. Apa pinositosis dan contoh bahan kimia toksikan yang menggunakan pinositosis?

Pinositosis adalah sifat alamiah semua sel dan menyebabkan sel dapat menyerap cairan dan isi cairan. Merupakan salah satu jenis endositosis di mana sel “meneguk” tetesan fluida ekstraseluler dalam vesikula kecil. Karena salah satu atau seluruh zat terlarut yang larut dalam tetesan tersebut dimasukkan ke dalam sel, pinositosis tidak bersifat spesifik dalam substansi yang ditranspornya. Pinositosis adalah peristiwa masuknya zat cair ke dalam sel. Pada proses ini, cairan akan dimasukkan ke dalam sel termasuk zat – zat yang larut didalamnya. Zat – zat tersebut antara lain protein, asam amino dan ion – ion. Peristiwa ini dapat terjadi bila konsentrasi protein dan ion tertentu pada medium sekeliling sel sesuai dengan konsentrasi di dalam sel. Proses pinositosis dapat diamati dengan mikroskop elektron. Sel-sel yang melakukan proses pinositosis ini antara lain sel darah putih, epitel usus, makrofag hati, dan lain-lain. Contoh zat-zat yang mengalami pinositosis adalah vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, dan K), asam lemak, asam amino, protein, ion-ion, telur parasit, dan vaksin polio secara oral.

Mekanisme kerja/Proses pinositosis:

  1. Molekul-molekul medium kultur mendekati membran sitoplasma.
  2. Molekul-molekul mulai melekat (menempel) pada plasma, hal ini terjadi karena adanya konsentrasi yang sesuai antara protein dan ion tertentu pada medium sekeliling sel dengan di dalam sel.
  3. Mulai terbentuk invaginasi pada membran sitoplasma.
  4. Invaginasi semakin ke dalam sitoplasma.
  5. Terbentuk kantong dalam sitoplasma dan saluran pinositik.
  6. Kantong mulai lepas dari membran plasma dan membentuk gelembunggelembung kantong.
  7. Gelembung-gelembung kantong mulai mempersiapkan diri untuk melakukan fragmentasi.
  8. Gelembung pecah menjadi gelembung yang lebih kecil.

 

  1. Contoh golongan halogen dan mekanisme kerjanya?

Halogen adalah kelompok unsur kimia yang berada pada golongan 17 (VII atau VIIA pada sistem lama) di tabel periodik. Kelompok ini terdiri dari: fluor (F), klor (Cl), brom (Br), yodium (I), astatin(At), dan unsur ununseptium (Uus) yang belum ditemukan. Berikut merupakan senyawa-senyawa yang termasuk golongan halogen:

  1. Fluor. Ditemukan dalam fluorspar oleh Schwandhard pada tahun 1670 dan Maisson (1886) berhasil mengisolasinya. Merupakan unsur paling elektronegatif dan paling reaktif. Dalam bentuk gas merupakan molekul diatom (F2), berbau pedas, berwarna kuning mudan dan bersifat sangat korosif. Serbuk logam, glass, keramik, bahkan air terbakar dalam fluorin dengan nyala terang. Adanya komponen fluorin dalam air minum melebihi 2 ppm dapat menimbulkan lapisan kehitaman pada gigi.
  2. Klor. Ditemukan oleh Scheele pada tahu 1774 dan dinamai oleh Davy pada tahun 1810. Klor ditemukan di alam dalam keadaan kombinasi sebagai gas Cl2, senyawa dan mineral seperti kamalit dan silvit. Gas klor berwarna kuning kehijauan, dapat larut dalam air, mudah bereaksi dengan unsur lain. Klor dapat mengganggu pernafasan, merusak selaput lender dan dalam wujud cahaya dapat membakar kulit.

 

  1. Brom

Ditemukan oleh Balard pada tahun 1826. merupakan zat cair berwarna coklat kemerahan, agak mudah menguap pada temperature kamar, uapnya berwarna merah, berbau tidak enak dan dapat menimbulkan efek iritasi pada mata dan kerongkongan. Bromin mudah larut dalam air dan CS2 membentuk larutan berwarna merah, bersifat kurang aktif dibandingkan dengan klor tetapi lebih reaktif dari iodium.

  1. Iodium. Ditemukan oleh Courtois pada tahun 1811. Merupakan unsur nonlogam. Padatan mengkilap berwarna hitam kebiruan. Dapat menguap pada temperature biasa membentuk gas berwarna ungu-biru berbau tidak enak (perih). Di alam ditemukan dalam air laut (air asin) garam chili, dll. Unsur halogen ini larut baik dalam CHCl3, CCl4, dan CS2tetapi sedikit sekali larut dalam air. Dikenal ada 23 isotop dan hanya satu yang stabil yaitu 127I yang ditemukan di alam. Kristal iodin dapat melukai kulit, sedangkan uapnya dapat melukai mata dan selaput lendir.
  2. Astatin. Merupakan unsur radioaktif pertama yang dibuat sebagai hasil pemboman Bismuth dengan partikel-partikel alfa (hasil sintesa tahun 1940) oleh DR. Corson, K.R. Mackenzie dan E. Segre. Dikenal ada 20 isotop dari astatin, dan isotop At(210) mempunyai waktu paruh 8,3 jam (terpanjang). Astatin lebih logam disbanding iodium. Sifat kimianya mirip iodium, dapat membentuk senyawa antar halogen (AtI, AtBr, AtCl), tetapi belum bisa diketahui apakah At dapat membentuk molekul diatom seperti unsur halogen lainnya. Senyawa yang berhasil dideteksi adalah HAt dan CH3At.

 

  1. Siapa yang lebih mudah teracuni pria atau wanita? Jelaskan!

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Umar Zein dkk (Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Bagian Penyakit Dalam FK USU/RS H. Adam Malik, Medan) jenis kelamin wanita lebih banyak dari pria dengan perbandingan 1,2 :1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya keracunan juga merupakan faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya aktivitas kolinesterase dalam darah. Enzim cholinesterase sangat penting terutama untuk kerja sistem saraf. Hidrolisis asetilcholin oleh enzim cholinesterase menghasilkan asam asetat dan cholin yang berfungsi sebagai perantara kimia pada sinaps sistem saraf otonom sehingga rangsangan yang sampai dapat diteruskan. Tinggi rendahnya aktivitas enzim cholinesterase menjadi indikator tinggi rendahnya tingkat keracunan. Dan pada jenis kelamin laki-laki memiliki kandungan enzim kolinesterase lebih rendah dibandingkan dengan wanita, sehingga wanita lebih berisiko mengalami keracunan.

 

 

  1. Apa yang dimaksud dengan:
    1. a.      Oksidasi alifatik

Oksidasi yang menggunakan oksidator O2 dari udara, katalisator berupa garam-garam (Ce, Co, Cu, Mn, V, U, Me), promotor berupa garam-garam (Ba, Mg, K), dan ditambah dengan initiator seperti peroksid, eracid, aldehid, keton, olefin atau senyawa organik pembentuk peroksid. Kemudian dilarutkan dalam dalam pelarut yang biasanya digunakan, yaitu asam organik yang inert terhadap oksidasi.

Oksidasi alifatik merupakan bagian dari metabolime zat (obat). Metabolime obat ini bertujuan untuk membuat xenobiotic lebih hidrofilik sehingga secara efisien dapat dieliminasi oleh ginjal. Oksidasi alifatik terjadi pada reaksi metabolimse obat tahap satu yang dimediasi oleh enzim sitokrom P450. Sitokrom P450 merupakan enzim mikrosom hati (hepatic microsomal enzymes) yang berperan dalam reaksi oksidasi dan metabolisme banyak obat.

Oksidasi Alifatik adalah oksidasi sisi rantai. Contohnya oksidasi sisi rantai thiopental, mengkonversi higly lipid-soluble parent drug menjadi  water-soluble carboxylic derivative. Contoh zat (obat) yang juga mengalami oksidasi alifatik seperti sekobarbital, klorpropamid, ibuprofen, meprobamat, glutethimide, fenilbutazon dan digitoxin. Berikut contoh reaksi oksidasi alifatik:

 

 

 

 

 

  1. b.      Oksidasi aromatik

Oksidasi adalah suatu reaksi kehilangan electron pada senyawa siklik yang umumnya mempunyai ikatan tunggal dan rangkap yang letaknya berselang-seling dalam mempunyai ikatan tunggal dan rangkap yang letaknya berselang-seling dalam rumus bangunnya. Sedangkan suatu senyawa aromatik polisiklik adalah suatu senyawa yang mengandung ”cincin gabungan” (cincin dengan pemakaian karbon bersama) dan bersifat aromatik. Contoh yang sering digunakan adalah naftalena, biasa dipakai sebagai pengusir ngengat dan antrasena yang biasa digunakan dalam pembuatan zat warna.

Senyawa aromatik polisiklik adalah kemampuan kimia yang terdiri atas cincin aromatik fused / cincin aromatik gabungan dan memiliki struktur resonansi tertentu. Senyawa aromatik polisiklik tidak mengandung heteroatom ataupun substituen lain didalamnya. Jadi, didalamnya ini murni hanya mengandung ikatan antara atom C dengan H yang aromatis dengan jumlah ikatan elektron pi yang mengikuti kaidah “Huckel”. Senyawa aromatis polisiklik umumnya bersifat karsinogenik karena dapat menyebabkan mutasi pada DNA.

 

Antrasena juga dapat bereaksi/oksidasi menjadi kuinon, oksidasi antrasena misalnya asam khromat atau asam nitrat, udara +H2O5, + 400OC-500OC. Penantrena menunjukkan perbedaan yang serupa antara ikatan-ikatannya, karakter ikatan rangkap dari ikatan 9,10 dari Fenantrena tampak jelas terutama dalam reaksi kimianya. Pada posisi ini dalam sistem cincin Fenantrena menjalani reaksi adisi yang khas dari alkalena tatapi tidak khas untuk Benzena. Fenantrena juga dapat dioksidasi yang akan menghasilkan kuinon.

 

  1. c.       Epoksidasi

Epoksidasi merupakan reaksi pembentukan gugus oksiran oleh asam peroksi (perasam) dengan senyawa olefin dan ikatan aromatis. Beberapa asam peroksi yang dapat digunakan untuk reaksi epoksidasi adalah asam parasetat, perbenzoat, performat, perfluoroasetat, m-kloroperbenzoat dan m- nitroperbenzoat. Diantara semua perasam ini, asam perasetatlah yang paling banyak digunakan karena  mudah didapat, murah, efesiensi dan epoksidasinya tinggi, dan stabil pada suhu lingkungan.

 

  1. d.      Deaminasi oksidatif

Deaminasi oksidatif adalah proses pemecahan (hidrolisis) asam amino menjadi asam keto dan ammonia (NH4+), secara skematik digambarkan sebagai berikut:

 

Deaminasi menghasilkan 2 senyawa penting yaitu senyawa nitrogen dan nonnitrogen.

  • Senyawa nonnitrogen yang mengandung gugus C, H, dan O selanjutnya diubah menjadi asetil Co-A untuk sumber energi melalui jalur siklus Kreb’s atau disimpan dalam bentuk glikogen.
  • Senyawa nitrogen dikeluarkan lewat urin setelah diubah lebih dahulu menjadi ureum (diagram 2).

Proses deaminasi kebanyakan terjadi di hati, oleh karena itu pada gangguan fungsi hati (liver) kadar NH3 meningkat. Pengeluaran (ekskresi) urea melalui ginjal dikeluarkan bersama urin.

 

  1. e.       N Dealkilasi

N-dealkilasi merupakan bagian dari reaksi oksidasi yaitu peniadaan (penghilangan) radikal yang mula-mula terikat pada atom nitrogen. Contohnya: Diazepam à N-desmetildiazepam.

 

 

  1. f.       O Dealkilasi

O-dealkilasi adalah suatu proses pemutusan rantai karbon pada atom oksigen atau peniadaan radikal yang mula-mula terikat pada atom oksigen.

 

  1. g.      S Dealkilasi

S-dealkilasi adalah Peniadaan radikal yang mula-mula terikat pada atom oksigen, nitrogen, dan sulfur. Dealkilasi sering terjadi bila gugus alkil yang terdealkilasi adalah metil, dan aminanya tersier disebut juga N-demetilasi oksidatif.

Fase I atau reaksi fungsionalisasi

Reaksi Oksidasi

Oksidasi gugus aromatis

Oksidasi pada benzilik, atom karbon allilik, atom karbon alfa pada karbonil dan imina

Oksidasi oada atom karbon alifatik dan alisiklik

Oksidasi melibatkan sistem C-heteroatom:

–     C-N (amina alifatik dan aromatik, meliputi : N-dealkikasi, deaminasi oksidatif, formasi N-okside, N-hidroksilasi)

–     C-O (O-dealkilasi)

–     C-S (S-dealkilasi, S-oksidasi, dan desulfurasi)

Oksidasi alkohol dan aldehida

Reaksi Reduksi

Reduksi aldehid dan keton

Reduksi senyawa nitro dan azo

Reaksi Hidrolisis

Hidrolisis ester dan amida

Hidrasi epoxide dan arene okside oleh epoxide hidrase

Fase II atau Reaksi Konjugasi

Konjugasi asam glukuronatKonjugasi sulfat

Konjugasi dengan glisin, glutamin, dan AA lain

Konjugasi glutation atau asam merkapturat

Asetilasi

Metilasi

 

  1. h.      N Oksidasi

Nitrogen dapat berikatan kovalen dengan beberapa unsur bukan logam, terutama hidrogen dan oksigen. Keelektronegatifan nitrogen lebih besar daripada hidrogen tetapi lebih kecil daripada oksigen. Akibatnya, bilangan oksidasi nitrogen akan bertanda negatif jika bersenyawa dengan hidrogen sedangkan jika bersenyawa dengan oksigen akan bertanda positif. Misalnya: NH3 dan NO2.

Amonia (NH3) adalah senyawa nitrogen yang sangat penting karena merupakan bahan baku untuk membuat senyawa nitrogen penting lainnya seperti urea dan nitrogen oksida. Amonia secara komersil dibuat dengan proses Haber, yaitu mencampur gas N2 dan H2 dengan katalis besi.

N2(g)  +  3H2(g)             2NH3               ∆H° = -92kJ mol-1

Reaksi ini dapat dibalik sehingga membentuk kesetimbangan. Di laboratorium, amonia dibuat dari garam ammonium dengan basa kuat atau oksida basa.

NaOH  +  NH4Cl  →  NH3  +  NaCl  +  H2O

CaO + 2NH4Cl → 2NH3  +  CaCl2  +  H2O

 

  1. i.        N Hidroksilasi

Hidroksilasi merupakan reaksi yang menambahkan gugus hidroksi kepada suatu senyawa organic pada gugus N nya. Hidroksil adalah gugus fungsional -OH yang digunakan sebagai subsituen di sebuah senyawa organik. Molekul yang mengandung gugus hidroksil dikenal dengan sebutan alkohol. Contoh : Norcocaine

Norcocain merupakan metabolit dari kokain yang jumlahnya sedikit dan satu- satunya metabolit kokain yang mempunyai aksi farmakologi aktif. Metabolisme oksidatif dari kokain adalah N-demithilasi menjadi norcocain. Selain itu dapat juga melalui N-hidroksilasi, yang akan menjadi lebih toksik. Metabolisme norcocain N-hidroksilasi diperantarai sitokorm p-450. Dengan adanya metabolisme oksidatif kokain menjadi norcocain dapat menyebabkan hepatotoksisitas. Hepatotoksisitas dari kokoain terjadi apabila kokain diberikan pada dosis 20 – 30 mg/kg. Sedangkan hepatoseluler nekrosis yang parah terjadi pada dosis 40 – 50 mg/kg. Norcocain menyebabkan perubahan morfologi sel setelah 30 menit penggunaannya.

 

  1. j.        P Oksidasi

Asam lemak merupakan sekelompok senyawa hidrokarbon yang berantai panjang dengan gugus karboksilat pada ujungnya. Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA. Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di sisi lain, jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.

 

  1. k.      Sulfoksidasi

Sulfoksidasi adalah Oksidasi senyawa sulfur nukleofilik. Contoh: metimazol.

 

 

  1. l.        Desulfurasi

Desulfurisasi adalah proses yang digunakan untuk menyingkirkan unsur sulfur. Dari suatu alkena dengan suatu asam peroksi organik, yaitu suatu proses yang disebut epoksidasi. Beberapa asam peroksi yang dapat digunakan untuk reaksi epoksidasi adalah asam perasetat, perbenzoat, performat, perfluoroasetat, m-kloroperbenzoat, dan m-notroperbenzoat.

 

  1. Jelaskan toksikodinamik dan toksikokinetik zat/bahan Selenium!
  • Toksikokinetik
  1. Distribusi Selenium dalam tubuh.

Kandungan selenium dalam tubuh manusia bervariasi antara 3 mg sampai 20,3 mg, tergantung dari kandungan selenium pada tanah di daerah tersebut. Tanah dengan kandungan selenium rendah menyebabkan kandungan  selenium  pada tanaman  juga   rendah  sehingga  ambilan  selenium  juga  rendah,  begitu  pula sebaliknya. Di Amerika Serikat kadar selenium pada orang dewasa berkisar antara 13 mg sampai 20,3 mg tetapi di German berkisar 6,6 mg, di Polandia 5,2 mg dan 3 mg sampai 6,1 mg di New Zealand. Sedangkan konsentrasi selenium pada air susu berkisar antara 15 sampai 20 mcg/L. Dengan diet yang normal, konsentrasi selenium terbanyak terdapat di hepar dan  otot masing-masing sebesar 30%. Selain itu dapat juga ditemukan di ginjal (15%), plasma (10%), lien, pankreas, jantung, otak, paru-paru, tulang, rambut dan kuku. Konsentrasi serum selenium pada orang dewasa >4x dibandingkan pada fetus dan  neonatus, tetapi sebaliknya konsentrasi selenium pada serebrum fetus dan  neonatus  lebih  besar  dibandingkan  pada  orang  dewasa.  Tetapi  penyebab fenomena ini belum diketahui. Distribusi selenium di dalam tubuh dapat berubah sesuai dengan kebutuhan organ  vital, sebagai contoh, pada penelitian yang dilakukan oleh Behne, dkk tahun 2000, dilakukan pengurangan selenium dalam jangka panjang, terjadi penurunan secara drastis kadar selenium di hepar, otot dan darah sampai <1% dari normal, tetapi di otak kadar selenium masih terdapat 60%.

 

 

  1. Absorbsi dan Transport

Absorbsi selenium terjadi di duodenum melalui Na+-dependent neutral amino acid transport sistem. Selenomethionine diabsorbsi hampir 100%. Sedangkan absorbsi   selenium   inorganik   bervariasi   tergantung   dengan faktor luminal. Selenium bentuk organik, terutama L-selenomethionine lebih mudah diserap oleh tubuh daripada bentuk inorganik, hal ini disebabkan karena selenium bentuk organik mengandung  asam amino, sehingga dapat bergabung dengan protein tubuh dan memungkinkan   untuk   disimpan   dan   dilepaskan  kembali   jika   diperlukan.   D- selenomethionine didegradasi menjadi        selenium inorganik. Oleh karena itu bioavailabilitinya hanya 1/5 dari L-selenomethionine. Sedangkan selenium inorganik langsung didegradasi sehingga tidak dapat disimpan. Absorbsi selenium  tidak  dipengaruhi oleh  status  selenium  dalam  tubuh. Absorbsi selenium tergantung kepada beberapa nutrisi yang lain. Vitamin A, C dan E meningkatkan absorbsi. Sedangkan merkuri menurunkan absorbsi selenium karena terbentuk endapan.

Selenomethionine yang tidak langsung dimetabolisme akan bergabung dengan protein tubuh dalam otot rangka, eritrosit, pankreas, hati, ginjal, lambung dan mukosa gastrointestinal. Seperti yang terlihat pada gambar 2, di dalam sel usus halus, senyawa selenium akan dimetabolisme menjadi selenocysteine. Selenomethionine (SeMet) diubah menjadi selenocysteine (CySeH) melalui selenohomocystein dan selenocsystathionine.  Di   hepar   selenocysteine  akan   mengalami   dekomposisi menjadi   serine  dan  hydrogen  selenide  (H2S)  oleh  enzim  β-lyase. H2S akan digunakan untuk sintesa selenoprotein atau mengalami metilasi menjadi mono-, di-, dan trimethyl oleh S-adenosylmethionine (SAM). Di hepar, selenomethionine juga dapat mengalami pemotongan oleh enzim γ-lyase menjadi monomethyl selenol. Di  dalam  sitosol  usus  halus,  selenocystine  bereaksi  dengan  glutathione tereduksi (GSH) membentuk selenocysteine-glutathione selenenyl       sulfide (CySeSG). CySeSG kemudian direduksi oleh   GSH   menjadi   selenocysteine. CySeSG  juga direduksi oleh enzim glutathione reduktase menjadi selenocysteine dan NADPH. Selenocystein selanjutnya akan mengalami proses yang sama seperti selenomethionine. Selenite dimetabolisme oleh glutathione (GSH) atau glutathione reduktase menjadi  hydrogen  selenide  melalui  selenodiglutathione  dan  glutathyonylselenol. Hydrogen  selenide  selanjutnya mengalami proses  yang sama.

Mekanisme transport sejauh ini masih belum jelas. Tetapi ada hipotesis yang mengatakan bahwa selenium masuk ke sel darah merah melalui proses difusi dan kemudian  dibawa  ke  seluruh  tubuh.  Di  dalam  darah  selenium  terikat  pada lipoprotein,  seperti  VLDL  atau  LDL.  Mekanisme transport  kedua  diduga  adalah selenoprotein P.

 

  1. Ekskresi

Homeostasis selenium dalam tubuh dilakukan melalui ekskresi, baik melalui urine, feses atau pernafasan. Sebagian besar selenium diekskresi melalui urine (60-80%), sebagian besar metabolit selenium diekskresi dalam bentuk metilasi yaitu methylselenol. Selenium dalam bentuk ion trimethylselenonium (TMSe) diekskresi melalui  urine dan bentuk volatile yaitu dimethylselenide (DMSe) diekskresi melalui paru-paru.  Ekskresi melalui paru-paru ditandai dengan bau nafas seperti bawang putih.

 

  • Toksikodinamik

Dalam banyak hal, selenium berfungsi sebagai makronutrien yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Selenium merupakan elemen non logam yang berperan penting dalam fungsi fisiologis normal. Selenium dalam bentuk residu selenosistein merupakan komponen struktural enzim antioksidan thioredoxin reductase dan glutathione peroxidase (GPx). GPx menangkal radikal bebas, membantu metabolisme sel darah merah dan telah memperlihatkan kemampuan dalam mencegah kerusakan kromosom pada kultur jaringan. Selenium secara tidak langsung berperan dalam mempertahankan suplai vitamin C, glutathione, dan vitamin E dalam tubuh.

Namun setelah membaca beberapa referensi, ditemukan adanya sifat racun pada selenium. Oleh karena belum banyaknya kasus yang ditemukan, serta sifat toksisitas selenium yang dianggap bukan “stadium 4” sehingga kita jarang mendengar zat ini sebagai zat racun.

Keracunan selenium atau secara medis disebut selenosis, biasanya akibat penggunaan/konsumsi selenium berlebihan. Di Amerika, terdapat beberapa kasus selenosis yang diakibatkan karena konsumsi selenium dalam bentuk multivitamin. Selenosis dapat terjadi ketika kadar selenium dalam darah > 100 µg/dL. Patofisiologi mengenai manifestasi klinis keracunan selenium belum sepenuhnya dimengerti. Kerontokan rambut yang terjadi berhubungan dengan kelainan struktur protein dalam keratin; dimana selenium diduga menyisip ke dalam jembatan disulfida, sehingga menyebabkan kelemahan struktural yang mengakibatkan kerontokan rambut.Manifestasi lain selenosis adalah mual, muntah, garis putih pada kuku jari tangan (garis Mees), lemas, iritabilitas, dan kesemutan. Bahaya selenium:

–          Toksisitas Kronis: toksisitas Selenium dapat menyebabkan gejala gastrointestinal, gangguan neuromuskuler-psikiatri, perubahan dermatologi , disfungsi hati, disfungsi ginjal, trombositopenia, dll.

–          Endokrin: efek awal keracunan selenium adalah gangguan fungsi endokrin, termasuk sintesis hormon tiroid. Kekurangan Selenium juga dapat memperburuk gangguan tiroid yang berkaitan dengan yodiumkekurangan.

–          Genitourinari: kadar selenium yang tinggi dapat menurunkan motilitas sperma.

–          Psikiatri: peneliti telah melaporkan selenium dengan kadar tinggi menyebabkan masalah perilaku seperti lekas marah atau kelelahan pada anak.

Mual, muntah, rambut rontok, lesion-lesion kulit, kantung-kantung kuku yang tidak normal, dan kuku terlepas, semuanya bisa jadi adalah gejala-gejala dari keracunan selenium. Level-level selenium yang diperlukan untuk memicu gejala-gejala keracunan ini biasanya tidak di dapat dari makanan, karena makanan-makanan yang banyak mengantung selenium itu hanya mengandung sekitar 30-50 microgram selenium per sajian. (Brazil nuts akan menjadi suatu pengecualian disini, karena rata-rata mengandung sekitar 70-90 microgram per kacang). Supplementasi selenium sepertinya akan lebih mungkin untuk menyebabkan keracunan selenium dibanding mencerna makanan. Dalam resiko potensi keracunan ringan, National Academy of Sciences (ditahun 2000) menetapkan suatu tolerable upper limit (UL) untuk selenium yaitu 400 microgram/hari untuk pria dan wanita yang berusia 19.

 

Shared by: Saikounolady

PLEASE TAKE OUT WITH FULL CREDIT!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: